Dialog Sebagai Media Komunikasi Politik

    0
    53

    TAK DIPUNGKIRI khasanah percaturan politik nasional dan daerah selalu diwarnai kegaduhan. Terlebih menjelang momen-momen krucial seperti pilkada serentak dan pemilu.

    Semua hiruk pikuk, ontran-ontran, kegaduhan politik menaik suhunya di detik-detik hari H pelaksanaan hajatan tersebut.

    Publik menyebut dengan istilah ‘kegaduhan politik’.

    Tulisan ini bermaksud sedikit mengurai munculnya kegaduhan demi kegaduhan politik dari perspektif ‘dialog dan komunikasi politik’.

    Kisah Menarik
    Dikutip oleh Prof. Dr. Muhammad Mutawalli Asysya’rawi dalam bukunya, Ruhul Islam wa Mazaayaah, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Jiwa dan Semangat Islam (1990), tersebutlah cerita menarik antara Khalifah Umar Ibnu Khattab, Sahabat Hudzaifah, dan Ali bin Abi Thalib. Pada suatu hari, sahabat Hudzaifah sowan ke ndalem kediaman Umar, lalu terjadilah dialog berikut :

    “Bagaimana kabarmu, wahai sahabatku?” tanya Umar.

    “Alhamdulillah ya Amirul Mukminin, aku sekarang ini menjadi orang yang menyukai fitnah, membenci perkara yang haq, aku menunaikan salat tanpa wudhu, dan aku memiliki sesuatu di muka bumi yang Allah tidak memilikinya” jawab Hudzaifah.

    Mendengar jawaban seperti ini, Umar tampak terkejut dan sangat marah.

    Betapa tidak, karena Hudzaifah telah memberikan jawaban yang dalam pikiran Umar sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

    Padahal, Umar sangat paham betul bahwa Hudzaifah adalah sahabat yang terkenal sangat saleh dalam menjalankan syariat Islam.

    Belum lenyap amarah Umar, mendadak muncul Ali bin Abi Thalib.

    Melihat suasana yang begitu tegang, raut muka Umar tampak memerah, Ali pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, kenapa anda kelihatan sangat marah kepada Hudzaifah?”.

    Kemudian Umar menerangkan kronologi kejadian yang membuatnya jadi marah.

    Akan tetapi, setelah mendengar penuturan Umar, ternyata Ali membenarkan semua ucapan yang disampaikan Hudzaifah.

    Ali mengatakan, pernyataan Hudzaifah bahwa dirinya menyukai fitnah adalah benar, sebab dia memang menyukai harta dan anak-anaknya. Alqur’an menyatakan :

    “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah fitnah”.

    Hudzaifah membenci perkara yang haq, lanjut Ali, maksudnya adalah membenci kematian.

    Kematian dalam ajaran Islam adalah perkara yang haq, akan tetapi manusia tidak menyukainya.

    Lalu Hudzaifah mengatakan salat tanpa wudhu, sebab salat dapat diartikan dengan shalawat, dan membaca shalawat dibolehkan tanpa berwudhu.

    Terakhir Hudzaifah mengatakan dirinya mempunyai sesuatu di muka bumi yang Allah tidak memilikinya, maksudnya adalah Hudzaifah memiliki istri dan anak, hal mana jelas Allah tidak memilikinya karena Allah berbeda dengan mkhluknya.

    Memahami argumentasi ilmiah sekaligus klarifikasi dari Ali yang disandarkan pada syari’at Islam, maka Umar pun kemudian menyadari dan bersepakat atas semua pernyataan Hudzaifah.

    Umar pun tersadar dari kemarahannya, lalu memuji kedalaman serta kearifan pemikiran Ali.

    Substansi Masalah.

    Dari kisah teladan diatas, dapatlah diambil ibrah (pelajaran) sejarah yang amat penting, yakni bagaimana sesungguhnya kesalahpahaman yang bisa jadi menimbulkan sesuatu yang negatif dapat dijernihkan dengan adanya dialog masalah dan memahami bagaimana berkomunikasi yang baik dan benar.

    Kisah indah ini memberikan refleksi arif kepada kita- utamanya para elit politik- untuk selalu mengedepankan dialog-dialog masalah dalam menghadapi persoalan-persoalan yang muncul.

    Dengan dialog inilah kesalahpahaman akan bisa diketemukan kejelasannya, pun lewat dialog ini pula kesalahpahaman yang dapat menimbulkan kerugian negatif dapat terhindarkan.

    Dalam konteks bangunan komunikasi politik pada kabinet kerja, sebetulnya tidak akan menimbulkan dan tidak akan muncul istilah ‘kegaduhan politik’, andai saja masing-masing pihak dapat menangkap memahami setiap konstatasi komunikasi politik.

    Untuk membentuk pola konstatasi komunikasi politik yang sehat tentu memerlukan wawasan yang memadai tentang substansi dasar manusia seperti mengenai hak asasi, kemerdekaan, wacana sosial, politik, hukum, pembangunan, negara dan hal lainnya baik itu bersifat lokal, nasional maupun internasional.

    Harus ada titik sentuh antara lokal, nasional dan internasional yang baik.

    Dalam sejarah Indonesia, ketika kehidupan demokrasi berjalan tertatih-tatih, juga kondisi sosial yang terus berubah, hukum ditegakkan setengah-setengah, keadilan dan ketertiban umum dicampakkan, justru pada level inilah setiap saat pelaku-pelaku pemerintah pemegang hajat hidup rakyat sangat perlu di beri masukan pemikiran, baik berupa kritik yang konstruktif dari dalam maupun dari luar agar tercipta sistem kehidupan politik yang kondusif.

    Kesopanan memang sangat perlu dijaga, apalagi menyangkut kesopanan dalam berpolitik dan membangun pola relasi dari konstatasi komunikasai politik. Sebab, jika cenderung berpolitik dan berkomunikasi politik yang secara emosional maupun anarkhis, timbulnya justru adalah perpecahan.

    Dalam berpolitik dan membangun komunikasi politik, Nabi Muhammad SAW, mencontohkan “Jika ingin mengajak orang, maka jangan bersikap kasar, tapi hendaklah bersikap lemah lembut, demokratis dan mengedepankan diplomasi”.

    Respons Politik.

    Dalam setiap berinteraksi dan berkomunikasi antar sesama, pasti akan ada saja kesalahpahaman serta gesekan. Akan tetapi kematangan dan kedewasaan akan berbuah respons yang mampu meredam persoalan serta mengatasi konflik disekelilingnya.

    Beberapa pola responsi perlu dicermati agar tercipta stabilitas politik dan terhindar dari kegaduhan politik.

    Pertama, Respons apologenetik, yaitu respons yang didasarkan atas pengenalan politik dan komunikasi politik yang dipahami secara benar dan dinyatakan pula dalam sikap politik yang secara filosofis dapat dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis.

    Kedua, Respons polemik, yaitu respons yang didasarkan atas upaya pengenalan kekuatan sendiri dan memahami kelemahan pihak lain untuk dibantah secara terbuka, baik dengan lisan maupun tertulis.

    Ketiga, Respons konfrontatif, yaitu respons yang dilakukan sebagai reaksi karena merasa di rendahkan dan di hina dalam segala bentuk.

    Respons konfrontatif cenderung negatif, destruktif dan menambah jurang perpecahan semakin dalam.

    Keempat, Respons proaktif, yaitu respons yang dilakukan dengan segala sikap toleransi yang bertanggungjawab.

    Respons proaktif diawali dengan sikap positif, baik terhadap diri dan orang lain.

    Sikap positif ini bisa di wujudkan dengan penghargaan penuh atas harkat, martabat dan hak asasi orang lain sebagai sesama manusia.

    Respons proaktif juga bersifat membangun (construktive), memperbaiki (restorative), mendukung (supportive), dan menyatukan (unified) dalam upaya mewujudkan yang terbaik bagi bangsa negara dan rakyat.

    Respons proaktif menuntut penyikapan positif yang di dasarkan atas keterbukaan dan rasa hormat untuk menciptakan keseimbangan.

    Sikap seimbang menempatkan kepentingan bersama dan kesamaan yang membangun, tanpa menghilangkan perbedaan-perbedaan yang menjadi unsur penting dalam membangun bangsa.

    Penutup.

    Dengan demikian, adalah menjadi sangat penting bagi para elit politik untuk menjadi motor penggerak dan memberikan drama politik yang menyehatkan dalam berpolitik dengan mengedepankan respons proaktif.

    Sesungguhnya para elit politiklah-lah yang paling bertanggungjawab untuk shaping the map bagi mereka yang berada pada the grass root.

    Mewujudkan tanggungjawab seperti ini menuntut adanya ketulusan dan kesungguhan niat baik para penguasa politik di negeri ini. Semoga saja.

    Penulis : Sugiyantoro,S.Ag.
    (Mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here