H.SUGENG,SH,.MSI : LBH-PK dan RAMADHAN

0
95

PURBALINGGA (cilacapnews.com) – INI tulisan, pandangan dan pendapat pribadi saya sebagai anak manusia dari desa. Saya kasih judul : “SUGENG : LBH-PK dan RAMADAN”. Sebuah tulisan berangkat dari fakta-fakta pengalaman pribadi antara sebelum bekerja di LBH-PK dan setelahnya.

Dulu sekali, saya bekerja sebagai tenaga ahli dengan job asisten pribadi pimpinan DPRD Kabupaten Cilacap. Ir. Adi Saroso, MM namanya. Birokrat yang endingnya terjun ke politik menjadi anggota DPRD Kabupaten Cilacap dari dapil Cilacap III (Kecamatan Cilacap Tengah, Kecamatan Cilacap Utara dan Kecamatan Cilacap Selatan).

Di Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, utamanya di kalangan birokrat, dipastikan tidak ada yang tidak kenal nama mantan sekretaris dewan (sekwan) dan sekretaris daerah (sekda) fenomenal Adi Saroso. Keras, tegas dan selalu tampil beda dalam kepemimpinannya. Sekda terlama dan terkuat di jamannya.

Sempat mengadu nasib menjadi calon bupati Pacitan, tempat kelahirannya namun dewi fortuna belum berpihak kepadanya. Akhirnya pensiun dini dan 2014 terjun kedunia politik masuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Cilacap dengan jabatan pimpinan DPRD tepatnya wakil ketua DPRD. Pada 2019 kembali terpilih, kembali duduk di pimpinan sebelum pada akhirnya 24 Maret 2020 di panggil keadirat AllahSWT.

Bicara Adi Saroso adalah bicara birokrasi dan politik, dedikasi kerja karena selama karier birokrasi dan politiknya beliau selalu menjadi pimpinan, pejabat. Dari sini babak baru dan cerita kehidupan saya di mulai. Perkenalan dan persinggungan hati serta pemikiran saya dengan H. Sugeng, SH., MSI di mulai.

Sekira 2013 an saya berkenalan dengan beliau dan beberapa tokoh NU Purbalingga. Bahkan H. Sugeng, SH., MSI pernah bertindak sebagai khatib merangkap imam shalat Jumat di Masjid Al-Ikhlas Komplek TNI AU Wirasaba saat saya masih menjadi pengampu masjid tersebut.

Saya tidak bisa inten dan lif in saat beliau maju sebagai calon bupati Purbalingga pada 2015 dari jalur partai politik (sebelumnya di agendakan maju melalui jalur independen). Hal ini karena saya sudah terikat kontrak kerja dengan Adi Saroso yang saat itu baru saja duduk menjadi anggota DPRD Kabupaten Cilacap dengan jabatan pimpinan dewan (wakil ketua DPRD).

Sempat ikut sedikit-dikit dalam beberapa pertemuan perumusan saat beliau H. Sugeng, SH., MSI merencanakan maju di kontestasi pilkada Purbalingga 2015. Saat itu, dalam hati kecil saya berdoa : “Ya AllahSWT kalau Engkau kedepan menakdirkan H. Sugeng, SH., MSI menjadi bupati di Purbalingga maka saya mohon ijinkan dan pertemukan kembali saya dengan beliau”. Terjawab setelah meninggalnya Adi Saroso pada 24 Maret 2020 dan saya tidak melanjutkan kontrak kerja di Cilacap.

Dengan idzin AllahSWT sejak saat itu saya di pertemukan kembali bahkan bekerja pada beliau H. Sugeng, SH., MSI. Semua orang besar, pemimpin besar adalah orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Adi Saroso adalah orang hebat, pemimpin hebat di bidangnya, birokrasi pemerintahan dan politik. Pun, H. Sugeng, SH., MSI adalah orang hebat, pemimpin hebat di bidangnya yakni pendekar penegakkan hukum.

Dulu, bersama 7 orang koleganya, advokat Sugeng mendirikan sebuah organisasi, Lembaga Bantuan Hukum bernama “Perisai Kebenaran”. Di kenal dengan istilah LBH-PK, Sugeng duduk sebagai dewan pendiri, ketua umum sekaligus direktur.

Pendiri lainnya selain duduk di dewan pendiri juga duduk di jajaran pejabat teras pada kepengurusan pusat (LBH-PK Pusat) yang beralamat kantor di Jln. Mas Cilik, Kranji, Purwokerto. Saya katakan, sungguh LBH-PK itu sebuah LBH besar, berkaliber nasional.

Reputasi, kiprah, sepak terjang LBH-PK beserta para advokatnya, internal dan eksternal nya dalam pembelaan, pendampingan, advokasi dan penegakkan hukum utamanya pencari keadilan dari kalangan orang miskin tak bisa dipandang sebelah mata.

Maka pantas, kemudian pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia memberi “Akreditasi A” kepada LBH-PK dan itu sudah tiga periode berturut-turut. Sayap pun di lebar dan kibarkan di seantereo wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kini, LBH-PK beroperasi di 10 lebih daerah provinsi, disebut dengan Korwil. Dan 20 an lebih kabupaten atau kota, disebut dengan Cabang. Pun, jumlah advokatnya paling banyak sekitar 140 an orang advokat berhimpun di LBH-PK besutan dari H. Sugeng, SH., MSI. Jumlah 140 an lebih advokat menjadi paling banyak dari hampir semua Organisasi Bantuan Hukum (OBH) di Indonesia.

LBH-PK juga menjadi LBH terbaik dalam bidang pelayanan dan pendampingan hukum menurut berbagai survei. Yang menakjubkan lagi bahwa ternyata walaupun memimpin OBH/LBH besar, gaji dari H. Sugeng, SH., MSI sebagai haknya nyaris tak pernah di ambil. Saya katakan : “H. Sugeng, SH., MSI nyaris tak pernah menyentuh uang atau keuangan lembaga”.

Bahkan, kebijakan beliau adalah mengutamakan para staf, karyawan di kantor pusat agar jangan sampai staf, karyawan tidak menerima gaji setiap bulannya. Beliau sering menyampaikan, tak mudah mengelola organisasi, lembaga besar seperti LBH-PK yang biaya operasionalnya besar setiap bulannya.

Dalam kontek ini, beliau menyampaikan bahwa korwil dan cabang yang sukses adalah yang rutin memberikan kontribusinya kepada pusat sebab ada hubungan timbal-balik, take and given antara pusat, korwil dan cabang.

Dalam kontek organisasi setelah banyaknya korwil dan cabang berdiri maka fungsi dan jalurnya menjadi berubah, yakni pusat menjadi fasilitasi bagi korwil dan cabang. Hal ini sebagaimana bentuk negara, semakin modernya masyarakat maka negara menjadi fasilitator bagi tumbuh berkembangnya masyarakat.

Kembali membahas sosok Sugeng. Tak hanya di kenal sebagai advokat beken, kondang semata. Tapi kiprah keorganisasiannya juga layak diperhitungkan. Advokat yang banyak menempati posisi strategis di banyak organisasi kemasyarakatan, profesi dari tingkat daerah samapai nasional, dialah H. Sugeng, SH., MSI orangnya.

Bahkan saat ini sudah tembus menjadi tokoh nasional dengan parameter beliau menjadi ketua umum Forum Nasional Organisasi Bantuan Hukum (Fornas-Bankum) Indonesia, ISMI dan juga masuk dalam jajaran ketua DPP Himpunan Pengusaha Nahdliyin.

Koneksi, kolega dan jejaringnya sudah nasional. Beliau pernah mengatakan setiap malam ketika berangkat tidur, pikirannya hanya tiga hal, pertama memikirkan agama ini, kedua memikirkan lembaga dan ketiga memikirkan situasi nasional dan daerah Purbalingga.

Di awal-awal ramadan beliau masih sempat tadarus Al-Quran di ruang kerja di kantor pusat LBH-PK. Menurut Sugeng berbagai hal sudah dilakukan untuk tetap kokoh dan eksisnya LBH-PK. Dari semua itu, prinsip, filosofi dan ruh lembaga berupa “5 Karakter dan 4 Tertib” bila dipegang, dilaksanakan bisa kembali membuat LBH-PK jaya, maju dan sejahtera.

Ramadan bisa berarti perjuangan tulus ikhlas dan kerelaan berkorban. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Sugeng kepada lembaga dimana sebagian penghasilannya adalah untuk operasional lembaga agar tetap eksis.

Bagi Sugeng, LBH-PK adalah sebuah ladang ibadah dan dakwah Islam yang rahmatal lilngalamin. Siklus dan kalender hukum yang berlaku di LBH-PK adalah ramadan saat ini menjadi tahun “Reakreditasi Nasional” dan kedepan di bulan Mei adalah “Ultah, milad” LBH-PK.

Semua momen itu harus dimaknai sebagai kebangkitan LBH-PK bagi terciptanya organisasi yang kuat dan mampu memberi warna baru dalam penegakkan hukum di Indonesia. Sugeng adalah figur baru di dunia penegakkan hukum Indonesia, setidaknya bagi tumbuh kembangnya OBH atau LBH. Dan figur serta aset daerah yang dimiliki Purbalingga.

Sugeng adalah sosok pemimpin yang tegas dan ketegasannya dibingkai dengan kearifan, kebajikan dan kematangan jiwanya. Sugeng adalah pemimpin yang religius mewarna pada bentuk keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Sugeng adalah pemimpin visioner yang mampu meletakkan dasar-dasar kepemimpinan dan membaca lenskap kedepannya akan menjadi serta seperti apa dari apa yang diamanahkan kepadanya. Sugeng juga menjadi harapan baru bagi terciptanya tatanan Purbalingga yang lebih maju, sejahtera, religius dalam bingkai “Kerja Lan Ngibadah”.

Akhirnya, saya merasa bersyukur bisa ikut andil bekerja dan menjadi bagian dari keluarga besar LBH-PK. Dalam sebuah organisasi apapun, ketua umum adalah figur yang harus di teladi dan menjadi figur sentral bagi tumbuh kembangnya organisasi.

Berbahagialah LBH-PK yang di dalamnya ada anak manusia bernama H. Sugeng, SH., MSI. Dan berbahagialah warga Purbalingga ada seorang warganya yang bernama H. Sugeng, SH., MSI. (*). Sugiyantoro, S. Ag. Kepala Bagian Media Komunikasi Sosial LBH-PK Pusat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here