Hartomo,SH,.MH Kepala Divisi Organisasi, SDM dan Program LBH-PK Gelar Ziarah Maqom di Kesugihan

0
118

CILACAP (cilacapnews.com) – Anggota dewan pendiri sekaligus kepala divisi organisasi, sumber daya manusia dan program bantuan hukum Lembaga Bantuan Hukum Perisai Kebenaran (LBH-PK) Hartomo, SH., MH menggelar ziaroh ke Kesugihan, Cilacap. Kali ini ziaroh dilakukan ke maqom pendiri pesantren tertua dan terbesar di Kabupaten Cilacap KH. Badawi Chanafi dan KH. Achmad Mustolih Badawi serta KH. Chasbulloh Badawi di Kesugihan, Cilacap Rabu (19/5).

Hartomo mengatakan sesuai arahan dan pesan ketua umum H. Sugeng, SH., MSI kepada kami selaku sesama pendiri agar dalam Harlah LBH-PK Ke-18 kali ini dilakukan ziaroh ke maqom-maqom para ulama, waliyulloh di wilayah Banyumas Raya seperti Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan sekitarnya. “Ziaroh masih dalam rangka rangkaian acara peringatan Harlah Ke-18 Lembaga Bantuan Hukum Perisai Kebenaran,” katanya.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa dalam sejarahnya kehadiran pesantren dilandasi oleh semangat untuk berdakwah serta mencerdaskan kehidupan bangsa yang ditindas oleh penjajah Belanda. Tepat pada 24 November 1925/1344 H seorang tokoh ulama kelahiran Purworejo, Jawa Tengah bernama KH. Badawi Chanafi mendirikan pesantren di desa Kesugihan, Cilacap.

Awalnya pendiri pesantren ini memanfaatkan mushola peninggalan ayahnya KH. Fadhil untuk mengawali pendirian pesantren. Mushola atau langgar tersebut dikenal dengan nama “Langgar Duwur”. Kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh KH. Ahmad Mustolih dan KH. Chasbulloh Badawi sebagai putra pendiri. Dikenal juga sebagai pesantren Kesugihan pada 1961 menjadi PPAI (Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam).

Pada 1983 kembali berubah nama menjadi pesantren Al-Ihya Ulumaddin oleh KH. Mustolih Badawi putra KH. Badawi. Perubahan nama dilakukan untuk mengenang almarhum ayahnya yang sangat mengagumi pemikiran Al-Ghozali tentang pembaharuan Islam. KH. Mustolih Badawi wafat pada 1998 dilanjutkan KH. Chasbulloh Badawi dan KH. Imdadurrohman Al-Ubudi beserta keluarga.

Pesantren memiliki pendidikan formal dan non formal bahkan perguruan tinggi Institut Agama Islam Imam Ghozali (IAIIG) dan Universitas NU Al-Ghozali (UNUGHA). Rentetan sejarah perjuangan mendirikan pesantren dan berdakwah para waliyulloh pendiri Al-Ihya Ulumaddin tersebut, tambah Hartomo sama persis dengan kami para advokat saat mendirikan LBH-PK. “Ada persamaan historis yah, hanya konteksnya berbeda,” imbuh Plt Ketua LBH-PK Cabang Banyumas tersebut.

Pesantren berdiri dengan misi dakwah Islamiyah sementara LBH-PK berdiri dengan misi membantu para pencari keadilan dari golongan rakyat tak mampu, miskin secara cuma-cuma alias gratis. Sebagaimana prosesi ziaroh, Hartomo bertawasul, membaca Yasiin, dzikir tahlil dan berdoa. “Kita tabarukkan melalui wasilah Yasiin, tahlil dan doa agar LBH-PK bisa mendapat keberkahan dan keberkahan,” harapnya.

Tak lupa Hartomo mengingatkan grand thema Harlah Ke-18 LBH-PK sebagaimana arahan ketua umum yakni “Tingkatkan Kinerja, Pertahankan Prestasi” dan selalu bersyukur sebab LBH-PK sudah membesarkan banyak advokat. (cn/tro/05).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here