Kisah Seorang Guru di Papua Datangi Rumah Murid di Tengah Wabah Covid-19

0
389

Jayapura (CilacapNews) – Sudah satu bulan lebih sejak Pelaksanan Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM ) di rumah di berlakukan pada tanggal 19 Maret 2020, Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah Provinsi Papua demi memutus rantai penularan wabah virus Covid-19 di Bumi Cendrawasih

Para Guru dan Siswa mau tidak mau harus beradaptasi terhadap Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM ) model baru yang belum pernah di lakukan sebelumnya khususnya di Kabupaten Jayapura.

T. Widiastuti .Spd ,Salah satu Guru dari Sekolah Dasar Negeri Inpres Kampung Sereh Distrik Sentani Kabupaten Jayapura menuturkan bahwa kesulitan belajar dari rumah belum semua anak murid mempunyai fasilitas Smarphone atau HP.

“Selama masa pembelajaran di rumah saya merasa dalam posisi yang dilematis, di samping rindu pada anak murid juga tentang himbauan Bapak Mentri agar bekerja dari rumah, tapi hati nurani saya berkata ini tidak bisa di lakukan oleh semua anak -anak murid karena mereka atau orang tua tidak semua mempunyai smartphone apa lagi laptop, misal nya punya pun akan terbebani untuk membeli kuota internet .” tuturnya.

Selain itu Pembelajaran di rumah juga perlu pendampingan bimbingan dan pengawasan dari orang tua / wali sedang, Orang tua murid bekerja di ladang atau bekerja di tempat lain ” Anak-anak bisa juga belajar melalui stasiun televisi TVRI dan Radio yang menayangkan program untuk belajar bersama di rumah juga bekal buku paket yang di berikan dari sekolah.” imbuhnya.

Tetapi semua itu tidak bisa dinikmati semua anak murid oleh karena itu Widiastuti bersama guru lain berupaya meningalkan rumah untuk mendatangi rumah siswa untuk memberikan pelajaran dan tugas untuk anak muridnya ,walaupun di sisilain ada aturan dari pemerintah untuk tetap di rumah saja .

Terpisah sesuai dg arahan kepala sekolah SDNegeri Inpres Sereh, Tiarly Samosir, S.Pd.SD sekalipun siswa belajar dari rumah hak mereka untuk mendapatkan pembelajaran harus terlayani dengan baik jangan Sampai siswa tidak belajar karena minimnya informasi dan media pembelajaran selama belajar di rumah.

Perjalanan beresiko dor to dor di tengah pandemi covid-19 memang membuat ngeri dan was was , Lebih lanjut guru SD yang sudah 20 tahun menjadi pendidik tetap melakukan Prosedur Standar Keamanan kesehatan “Saya sebelum datang kerumah anak murid memakai masker dan sarung tanggan sesuai anjuran pemerintah memang ada rasa takut tapi semua ini kami lakukan sebagai tugas dan tangung jawab seorang Guru “, Ujar Tuti.

Lain cerita dari Emma Tokoro yang merupakan Guru asli dari Sentani menuturkan sulitnya medan yang harus di tempuh untuk sampai tiba di rumah anak murid (30/04/20) sangat melelahkan “Jalan yang kita tempuh kemarin sampai harus menyebrang sungai dan jalan kaki guna sampai di rumah anak murid, karena mereka tinggal tidak pada satu kampung yang sama .” tutur nya

Rasa capek dan panas terbayar sudah mana kala sudah sampai rumah tujuan dan bertemu anak murid juga orang tua murid yang merasa di perhatikan sekali pendidikan anak nya, ” lelah saya hilang dari perjalanan jauh saat bisa bertemu anak anak murid mereka tampak bahagia sekali mendapat kunjungan dari Ibu Guru nya,” Ungkap Emma.

Disamping memberikan tugas dan pembelajaran kepada para murid Guru juga memberikan pengetahuan tentang bahaya dan cara pencegahan Covid -19 tutur Wendi Putuhena, S.Pd yang merupakan pengajar di SD Advent Padang Bulan Kelurahan Hedam Distrik Heram Kota Jayapura Papua. “Dengan mendatangi anak murid secara tidak langsung kita juga memotifasi anak untuk tetap belajar dan tetap di rumah saja dengan rasa gembira dan suka cita.” Pungkasnya. (cn/hd/02)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here