Menelusuri Bisnis Esek esek di Kota Kripik Tempe (Bagian 1) :

0
4615

Oleh : Fairuus Hafiz Sutrisno
Layanan Beralas Koran dan Kasur
Fenomena PSK (Pekerja Seks Komersial) memang selalu menarik untuk diungkap. Keberadaan penjaja cinta ini sepertinya akan selalu ada, kendati kerap dilakukan razia berulangkali. Alasan ekonomi menjadi hal yang klasik. Seperti halnya di Kota Kripik tempe Purwokerto, prostitusi sangat mudah dijumpai, mulai dari kelas ekonomi, menengah dan VIP. Berikut laporannya……

Setiap malam di kawasan Jalan Gerilya hingga Jalan S Parman Purwokerto, berjejer pekerja seks yang menjajakan diri. Mereka berdiri di sepanjang jalan di depan, di sebelah barat dan timur Pengadilan Negeri, sambil membawa motor. Wanita-wanita berparas lumayan dan pas-pasan itu mencari tempat yang agak gelap menunggu “mangsa”.

Mulai pukul 19.00, mereka terlihat mejeng di pinggir jalan. Mata mereka melirik nakal pada laki-laki yang melintas. Kadang celetukan genit terdengar memanggil laki-laki yang lewat tadi. Rata-rata, mereka masih berusia muda antara 30-35 tahun.

Selain yang menunggu “klien” dengan memakai sepeda motor, terdapat pula wanita yang hanya berdiri tanpa motor. Dengan dandanan menor mereka akan selalu tersenyum nakal kepada laki-laki yang lalu lalang di depannya. Jika ada yang menghampiri, dan deal transaksi, selanjutnya mereka akan meluncur ke losmen, atau penginapan terdekat yang murah meriah, untuk short time sekitar 30 menit hanya Rp 80 ribu, sudah termasuk layanan esek-esek.

Keberadaan losmen yang merupakan “warisan peninggalan’ saat terminal Purwokerto masih berada di kawasan tersebut, ternyata dimanfaatkan para PSK untuk ‘berbisnis’ dengan tamunya. “Ya walaupun losmen disini murah dan kasurnya juga sudah pada kempes, tapi tamu jarang yang protes kok , mas?” terang Lina (35), salah seorang PSK asli Purbalingga.

Keberadaan PSK bermotor sudah menjadi fenomena sejak tiga tahun belakangan ini. “Kalau pake motor kan praktis mas. Tamu akan ngikuti saya menuju losmen dan ngirit nggak harus ngojek,” imbuh Lina yang mengaku kredit motor matic untuk menunjang bisnisnya tersebut.

Lalu, bagaimana dengan PSK kelas ekonomi AC yang berada di sebelah timur Taman Kota dan Jalan S Parman? Meski habitat mereka kini semakin menipis dan bisa dihitung dengan jari, namun mereka masih tetap eksis hingga saat ini. Ketika penulis mencoba melakukan penelusuran di sudut Jalan S Parman bagian selatan, di trotoar jalan nampak beberapa PSK kelas ekonomi sedang ngetem menanti tamunya.

“Arep maring ngendi wengi-wengi, mas? Nggolet serabi anget ya? Ngeneh mampirlah, ngko tek angeti njenengan. (Mau kemana malam-malam gini mas? Sini mampir nanti kuhangatin –red),” sapa wanita berumur sekitar 42 tahunan tersenyum genit menyapa penulis.

Sambil menghisap sebatang rokok filter pemberian penulis, wanita bernama Darmi itu pun menceritakan tarif layanan jasanya. Ia manut saja mau gituan di hotel atau di atas rerumputan dengan beralas kertas koran. Busyet?? “Kalau di hotel paketan Rp 50 ribu saja mas. Tetapi kalau ‘main’ di atas rerumputan ya Rp 30 ribu saja. “Pokoke dijamin buket, anget, cekelan suket dech mas?” kata Darmi meyakinkan.

Tarif tersebut diatas, menurutnya bahkan bisa dinegoisasi alias ditawar lagi. Darmi mengaku jika lagi ‘bobor’ atau sepi tamu, ia sering mengobral tarifnya hingga angka Rp 15 ribu. “Ya gimana lagi mas, persaingan disini makin ketat dan susah. Sementara saya juga harus makan dan menafkahi keluarga,” tuturnya sedih.

Darmi dan rekan-rekan sekelasnya memang hanya bisa berharap rupiah dari tamu berkantong cekak saja. Entah itu tamu yang berprofesi sebagai tukang becak, kuli bangunan atau ataupun. PSK kelas ekonomi Purwokerto yang mangkal di Jalan S Parman, menurut catatan sejarah bahkan sudah ada sejak tahun 1985-an. Ikuti terus penelusuran bisnis esek-esek di kota kripik tempe edisi depan. (trs/brersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here