Opini : Nikmatnya Sakit Gigi

    0
    49

    “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya”. (Q.S.Ibrahim:34).

    NIKMAT bukanlah selalu terdapat pada hal yang kita sukai saja. Tapi nikmat juga ada pada hal yang tidak kita sukai. Seperti sakit, misalnya. Sepertinya di dunia ini tidak ada satupun manusia yang menginginkan sakit, ya sakit apapun. Dari yang ringan, sampai yang berat. Maka nikmat terbesar disaat pandemi covid 19 ini masih melanda adalah nikmat sehat. Beruntung kita semua masih sehat dan hidup ditengah wabah ini. Tapi sebagai manusia pasti akan merasakan dan terkena sakit.

    Nikmatnya Sakit.

    Seumur hidup penulis, belum pernah merasakan sakit gigi. Dengar-dengar sakit gigi itu sakitnya amat kepalang alias tiada terkira. Sekarang ini baru penulis merasakan dahsyatnya, amboinya sakit gigi. Tiga harian ini penulis bergelut dengan rasa dari sakit gigi. Luar biasa, menyengat, senut-senut sampai otak, panas dan menggigil ini punya badan. Sengaja tidak diobati apapun karena ingin merasakan nikmatnya rasa sakit gigi. Ditengah menikmati rasa sakit gigi ini, penulis tetap berangkat bekerja melaksanakan pekerjaan semampunya ditengah gempuran, amukan sakit gigi.
    Menyikapi Sakit.

    Sungguh Islam itu agama yang amat sangat manusiawi, rasional dan penuh kasih sayang. Sebagai seorang muslim, harus meyakini kondisi apapun adalah yang terbaik. Nikmatnya sehat terasa bila sudah merasakan nikmatnya sakit. Saat sakit itulah cara Allah Ta’ala mengistirahatkan dan menghapus dosa seorang muslim. Kalau ibadah mahdoh kurang, sementara dosa dan kesalahan begitu banyak maka sakit adalah cara Allah Ta’ala menghapus dosa kita.

    Rentetan musibah, bala’, bencana dan malapetaka melanda manusia bukan karena Allah Ta’ala benci tapi justru karena Allah Ta’ala amat sayang kepada hambanya. Allah Ta’ala ingin manusia selalu dalam kefitrahan tapi nafsu dunia menggelincirkan fitran manusia sehingga dikirimlah berbagai musibah, bala’, bencana dan malapetaka termasuk sakit sebagai upaya menghapus dosa. Panas demamnya seorang muslim, itu menghapus dosa-dosa. Saat tertusuk duri di jalanan itupun menghapus dosa-dosa. Saat sakit mulut ini berdzikir menyebut asma Allah Ta’ala ini pahala dan menghapus dosa. Menyingkirkan duri dari jalanan umum ini pun pahala dan menghapus dosa-dosa.

    Soal Gigi.

    Tidak main-main pandangan Islam ini soal kebersihan. Bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Dimensi iman adalah lahir dan bathin, dunia dan akhirat. Nah… bicara kesehatan gigi. Ada bersiwak atau gosok gigi. Bersiwak adalah sunnah wudhu yang sering diabaikan. Rasulullah, Saw, mengatakan dua rakaat dengan bersiwak lebih utama daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak.

    Lainnya, Rasulullah, Saw, mengatakan jagalah siwak karena didalamnya terdapat sepuluh (10) keutamaan yaitu membersihkan mulut, menyebabkan Allah Ta’ala ridha, membuat syetan marah, membuat Allah dan para malaikatnya cinta, menguatkan gigi, menghilangkan kotoran, mewangikan mulut, mengurangi kekuningan, memperjelas penglihatan, dan menghilangkan bau mulut. Dan, bersiwak adalah sunnah Rasulullah, Saw. Para ulama terdahulu mengumpulkan sekurang-kurangnya ada 70 keutamaan bersiwak, salah satunya adalah akan dimudahkan mengucapkan syahadat ketika sakaratul maut.

    Sebaliknya, menghisap candu, narkoba mengandung 70 madharat atau kerugian, salah satunya adalah dilupakan, disulitkan, dipersukar mengucapkan kalimat syahadat ketika sakaratul maut.

    Epilog.

    Demikianlah tulisan ringan ini dibuat saat bersamaan dengan upaya menikmati rasa sakit gigi. Didalam rasa sakit ada rasa nikmat dan hikmat bagi yang mau mengambil pelajaran. Usai sakit hilang maka badan menjadi segar, fit kembali. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.
    Semoga bermanfaat.

    Penulis : Sugiyantoro,S.Ag.
    (Kepala Bagian Pengelolaan Media Sosial pada Kantor Pusat Lembaga Bantuan Hukum Perisai Kebenaran).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here