Warga Winong Geruduk Pemkab Cilacap, Keluhkan Aktivitas PLTU

0
503
Cilacapnews.com Cilacap – Ratusan warga Dusun Winong, Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, yang tergabung dalam FMWPL dan JPLC, Senin (27/8/2018), menggerudug Pemkab Cilacap.
Mereka Bupati Cilacap agar tegas terhadap PLTU Cilacap yang dinilai melakukan pencemaran lingkungan dan meminta Bupati memberikan sanksi administratif kepada PT Sumber Segara Primadaya (S2P) selaku pengelola PLTU Cilacap.
“Bupati harus menegakkan Perda Nomor 5 Tahun 2016 karena selama ini PLTU telah mencemari lingkungan Dusun Winong,” kata pendemo dalam orasinya di depan pintu gerbang kompleks Pemkab Cilacap, yang dijaga ketat aparat kepolisian.
Selain itu, mereka juga mendesak Bupati yang punya wewenang melakukan tindakan terhadap PT S2P.
Sebab, saat ini warga Winong terkena dampak debu dan air  menjadi kering serta asin, juga warga merasakan gatal-gatal.
“Sumur kami menjadi kering. Kami mengharapkan kebijaksanaan Bupati untuk dapat mengatasi debu PLTU. Juga kami  harus mengepel setiap hari jauh dari biasanya,” kata Satinem, salah satu warga saat audiensi dengan Bupati di ruang kerjanya.
Sementara itu Rianto, Koordinator Forum Masyarakat Winong Peduli Lingkungan (FMWPL) menerangkan, saat ini 275 KK di Winong sangat merasakan sekali dampak tersebut. Yang parah di RT 01 RW 10 dan RT 02 RW 10.
“Dampaknya tidak hanya satu tahun tetapi beberapa tahun.
Kami mengalami krisis air hingga kekeringan,” beber dia.
Rianto menambahkan, warga akhirnya mengebor. “Mereka terpaksa mengambil uang untuk kebutuhan anak sekolah, karena air sangat penting tapi debet air tidak mencukupi,” katanya, dan menambahkan bantuan toren untuk menampung air dari PLTU cuma 8 buah dan berkapasitas 1.050 liter, serta didistribusikan ke tiga rumah dalam sehari.
“Ke-24 KK yang mendapat bantuan toren tidak setiap hari. Mereka harus menunggu pengisian tiap 5 hari sekali.
Mohon ini ada penyelesaian terbaik,” harap Rianto.
Menurutnya hal itu sangat kurang. Dikhawatirkan nantinya akan muncul sumur-sumur yang mengakibatkan gatal.
Awal krisis, kata Rianto, mulai muncul sejak perluasan unit 3 dan 4. Untuk unit 1 dan 2 justru tidak.
Asisten II Sekda Cilacap Dian Setyabudi, yang mendampingi Bupati saat audiensi  mengungkapkan bahwa krisis air saat ini menyeluruh. Bahkan PDAM tak bisa melakukan apapun.
“Air asin sudah sampai bagian belakang pompa air Kesugihan. Faktor alam seperti angin mungkin juga mendorong air laut hingga ke Kesugihan,” katanya.
Dian menambahkan, nanti akan dicek. Pihaknya sudah ke PLTU, dan hasilnya dipasang toren-toren. Kota mati air sama sekali.
Pamda saat ini sedang mengirim 80 unit drum air ke daerah-daerah yang krisis. Seluruh warga Winong masih menggunakan air tanah karena PDAM belum masuk. Hal ini akan dikomunikasikan dengan PLTU.
Kepala DLH Cilacap Adjar Mugiono mengaku sudah ke PLTU. Kini ada penambahan satu toren di Kuwasen.
“Debu betul ada sebab di sana banyak tambak, tapi bukan karena tambak. Izin lingkungan PLTU dari Gubernur (PP No 27 Tahun 2012). Sudah uji lab. Semuanya di bawah ambang batas,” kata Adjar.
Terkait debu, warga sebenarnya mengeluhkan asiat (aspon) bekas pembakaran batubara.
“Asiatnya berdekatan dengan rumah warga dan tidak tertutup. Air kering lebih dari puluhan tahun baru sekarang terasa. Ngebor hingga 13 meter. Hembusan angin membuat asiat masuk ke rumah warga,” imbuh Fahmi Bastian.
Menanggapi warga, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji menandaskan, kekeringan hampir dialami seluruh penduduk di Pulau Jawa.
Bupati juga megatakan saat ini sedang fokus bagaimana PDAM bisa mengatasi kekerimgan parah yang baru terjadi tahun ini. Meski tahun lalu pernah terjadi, namun tidak separah sekarang karena bisa diatasi.
“Saya akan bentuk tim untuk memantau secara langsung keluhan masyarakat di lapangan,” tegas Tatto.
Kapan dan bagaimana tim tersebut, dia mengatakan akan dibicarakan dulu dan meminta masyarakat bersabar untuk nantinya bisa melihat tim ini bekerja.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PLTU belum bisa dimintai tanggapannya. (Rus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here